Jumat, 30 Agustus 2013
Renungan Jum'at Untuk Nutrisi Hati : Bekal Kematian
Setiap Makhluk hidup di Dunia ini termasuk kita sebagai manusia pasti akan mati dengan cara, sebab dan waktu yang berbeda-beda, tanpa pandang bulu kalau saatnya nanti telah tiba. Seperti dalam Surat Al-Imran; 145. Yang artinya ;
" Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur "
Lalu kapan kematian itu datang menjemput kita? Hanya Allah yang maha tahu. Pertanyaannya adalah; Sudah siapkah bekal yang akan kita bawa kelak pabila kematian menjemput???
Dalam sehari kita semua memiliki waktu yang sama di dunia ini, yaitu 24 Jam sehari tidak kurang dan tidak lebih. Berapa lama waktu dari 24 jam yang kita miliki di dunia ini yang kita gunakan untuk mengumpulkan bekal akherat kelak?
Umumnya kita manusia menggunakan waktu kita dalam 24 jam sehari disibukkan untuk mengumpulkan bekal Duniawinya dan sedikit dari sisa waktu 24 Jam tersebut yang kita gunakan untuk beribadah kepada Sang Maha pemberi Hidup sebagai bekal kita di Akhirat (Kehidupan yang abadi dan Kekal). Astaghfirrullah..
Untuk itu Penulis mengajak Khusus dan wal khusus pada diri pribadi dan keluarga serta penikmat www.doamakbul.blogspot.com semua yang dimuliakan Allah, marilah kita rubah cara hidup kita di dunia yang hanya sementara ini dengan memanfaatkan sebagian waktu yang kita miliki dari 24 jam sehari untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya pada kehidupan yang kekal dan abadi yaitu diakherat ketika ajal menjemput.
Awalilah dengan memperbaiki sholat kita, tahap demi tahap dan lakukan sholat dengan tepat waktu serta berusaha untuk sholat berjama'ah di Masjid minimal pada saat Sholat shubuh dan Isha, syukur Alhamdulillah setiap sholat fardhu kita berjama'ah di Masjid. Biasakan melakukan dzikir sebanyak mungkin seusai sholat wardhu dan lakukan sholat2 sunnah sebanyak mungkin sesuai sunnah Rosul.
Simak ayat-ayat Alqur-an di bawah ini :
” Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. “QS: Luqman (31), Ayat 34
“ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. ”
QS. Al-Munafiqun (63), Ayat 11)
Bukankah Allah telah memberikan kehidupan ini kepada kita dengan segala kenikmatan yang tiada tara? Mampukah kita mengingkarinya? seperti detak jantung kita yang tiada hentinya sesuai kehendak Allah? dan berapa kali kedipan mata kita dalam sehari, seminggu, sebulan dan seterusnya? mampukah kita menghitungnya? Dan kenikmatan-kenikmatan lainnya sehingga kita semua ini bisa merasakannya tanpa batas.
Sudahkah dan cukupkah kita mensyukuri nikmat-Nya? berapa kali dalam sehari kita bersyukur atas nikmat-Nya?
Bukankah kita selalu mengucapkan TERIMA KASIH tiap kali kita menerima pemberian/bantuan dari seseorang? dan bukankah kita juga berusaha untuk membalas kebaikan dari orang tersebut?
Dan kemudian apa yang sudah kita berikan kepada SANG PEMBERI KEHIDUPAN DAN KENIKMATAN, ALLAH,SWT?
Hanya dengan menjalankan semua perintah-perintah Allah dan sunnah Rosul, Insya Allah adalah sebaik-baiknya bekal kita untuk di kehidupan Akhirat nanti, karena bekal yang sesungguhnya untuk kita bawa mati hanya ada 3, seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim itu berbunyi, “Rasulullah Saw bersabda: ‘Bila seseorang telah meninggal, maka terputuslah baginya pahala segala amal, kecuali tiga hal yang tetap kekal yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh yang senantiasa mendoakannya’.
Semoga kita semua senantiasa mempersiapkan bekal kita sebanyak mungkin untuk kehidupan akherat nanti dan semoga kita berada di barisan Nabiullah, Rossullullah, SAW. Dan juga semoga kita adalah masuk golongan manusia calon penghuni SORGA, Amin. Yaa Rabb....
Sabtu, 27 Juli 2013
Renungilah dan Syukurilah
Kutipan dari Buku La Tahzan
Ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita selama ini, karena dia telah melipatkan nikmatnya dari ujung rambut kebawah kedua telapak kaki.
'Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya'
(QS. Ibrahim:34)
Kesehatan badan, keamanan negara, tercukupi sandang pangan, udara dan air, semua tersedia dalam hidup kita. Namun kita sebagai manusia memiliki dunia tetapi tidak pernah menyadarinya, kita menguasai kehidupan tetapi tidak pernah mengetahuinya.
"Dan, dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin" (QS.Luqman:20)
Kita memiliki dua mata, satu lidah,dua bibir, dua tangan dan dua kaki
"Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS.AR-Rahman:13)
Apakah kita mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele?, sedang kaki acapkali menjadi bengkak bila digunakan terus-menerus tiada henti? Apakah kita mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak kuat dan bisa patah?
Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar kita masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya? Pernahkah kita merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin menyegarkan saat masih banyak orang disekitar kita yang tidak bisa makan dan minum karena sakit atau ketidak beradaannya?
Mari kita renungkan dan pikirkan, betapa besar fungsi pendengaran yang dengannya Allah menjauhkan kita dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata kita yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit kita yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak kita yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.
Adkah diantara kita yang mau menukarkan mata kita dengan Emas sebesar Gunung Uhud, atau menjual pendengaran kita seharga perak atau bukit? dan lain sebagainya dan seterusnya.
Kita seringkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa kita mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera, padahal sesungguhnya kita masih memegang kunci kebahagiaan , memiliki jembatan pengantar kebahagiaan, karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikir dan renungkalah semua itu dan bersujud syukurlah kita. Subhannallah.
Dan jaganlah kita masuk pada golongan orang yang mengingkari nikmat Allah,,,,,,Nauzdubillah!!!
"Mereka mengetahui nikmat Alllah, kemudian mereka mengingkarinya" (QS.An-Nahl:38)
'Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya'
(QS. Ibrahim:34)
Kesehatan badan, keamanan negara, tercukupi sandang pangan, udara dan air, semua tersedia dalam hidup kita. Namun kita sebagai manusia memiliki dunia tetapi tidak pernah menyadarinya, kita menguasai kehidupan tetapi tidak pernah mengetahuinya.
"Dan, dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin" (QS.Luqman:20)
Kita memiliki dua mata, satu lidah,dua bibir, dua tangan dan dua kaki
"Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS.AR-Rahman:13)
Apakah kita mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele?, sedang kaki acapkali menjadi bengkak bila digunakan terus-menerus tiada henti? Apakah kita mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak kuat dan bisa patah?
Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar kita masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya? Pernahkah kita merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin menyegarkan saat masih banyak orang disekitar kita yang tidak bisa makan dan minum karena sakit atau ketidak beradaannya?
Mari kita renungkan dan pikirkan, betapa besar fungsi pendengaran yang dengannya Allah menjauhkan kita dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata kita yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit kita yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak kita yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.
Adkah diantara kita yang mau menukarkan mata kita dengan Emas sebesar Gunung Uhud, atau menjual pendengaran kita seharga perak atau bukit? dan lain sebagainya dan seterusnya.
Kita seringkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa kita mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera, padahal sesungguhnya kita masih memegang kunci kebahagiaan , memiliki jembatan pengantar kebahagiaan, karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikir dan renungkalah semua itu dan bersujud syukurlah kita. Subhannallah.
Dan jaganlah kita masuk pada golongan orang yang mengingkari nikmat Allah,,,,,,Nauzdubillah!!!
"Mereka mengetahui nikmat Alllah, kemudian mereka mengingkarinya" (QS.An-Nahl:38)
Minggu, 14 Juli 2013
Berhati-hatilah kita manusia
Pada umumnya kita sebagai manusia sering lupa atau bahkan lebih parah melupakan Tuhannya, ketika kita diberi kenikmatan, harta melimpah, kemewahan dalam hidup dan kesehatan serta kebahagiaan,( Nauzdubillah )akan tetapi sebaliknya apabila kita diberi kesengsaraan hidup, serba terhimpit, baru kita mengenal Tuhan. Bagaimana dengan Mas dan Mbak Broo semua? Namun yang 'sungguh terlalu' adalah; sudah kehidupannya sengsara, serba pas-pasan tapi tidak mendekat kepada Allah sang maha pencipta ditambah lagi sering mengeluh dan mengumpat. Nauzdubillah!!!
Untuk itu mari kita renungkan Ayat berikut ini tentang seberapa dekat Allah dengan kita?
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS. Qaaf : 16].
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ
“Dan Kami lebih dekat dengannya daripada kamu” [QS. Al-Waqi’ah : 85].
Makna kedekatan dalam dua ayat di atas tidaklah bermakna bahwa Allah menyatu dengan hambanya (Al-Hulul/Wahdatul-Wujud). Ini adalah aqidah bathil. Makna kedekatan dalam dua ayat tersebut adalah kedekatan malaikat terhadap manusia.
Maka berhati-hatilah kita sebagai manusia dari setiap tindakan dan tutur kata kita dalam setiap kehidupan apapun keadaan dan kondisi kita.
Dalam menghadapi kesulitan dalam hidup kita harus bersabar dan senatiasa Ikhlas dalam menjalani serta terus berusaha dan berdoa.
Oleh karena itu, dalam keadaan apapun, kita sebagai hamba yang beriman kepada Allah SWT harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah menurunkan berbagai musibah melainkan sebagai ujian atas keimanan yang kita miliki.
Allah dalam firman-Nya : “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)
Kesabaran merupakan perkara yang amat dicintai oleh Allah dan sangat dibutuhkan seorang muslim dalam menghadapi ujian atau cobaan yang dialaminya. Sebagaimana dalam firman-Nya :“…Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Al Imran : 146)
Namun apabila kita diberi kelimpahan harta, kesehatan dan kenikmatan dalam hidup, maka janganlah kita lupa bahwa semua itu datangnya dari Allah. Perintah Allah dalam mensyukuri nikmatnya ;
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.31:12)
Alaah maha besar, Allah maha memiliki, Allah maha Kaya, Allah maha Kasih lagi maha penyayang dan Allah Pemilik segala Maha, maka apalah artinya kita sebagai manusia yang senantiasa memiliki kemampuan terbatas dan ketidak sempurnanya kita sebagai manusia, maka Maha besar Allah dari segala apa yang ada di Dunia maupun di Akherat.
Selasa, 09 Juli 2013
Marhaban yaa Ramadhan
Alhamdulillah yaa Allah yaa Rabb,,telah Engkau beri kami sekeluarga kesempatan untuk bertemu lagi dengan Bulan suci tahun ini dan Engkau telah memberi kepada kami sekeluarga Kesehatan sehingga mulai hari ini kami dapat menjalankan Ibadah Puasa lagi, Subhannallah, Wal Hamdulillah, Laailahaillallah Huu Allah Huu Akbar.
Kini Umat Islam di seluruh dunia menyambut dengan suka cita atas datangnya Bulan suci, bulan yang penuh berkah, bulan yang penuh ampunan dan Bulan yang sangat Dahsyaat.
Ramadhan adalah bulannya ahlul munajat, bulan berpesta bagi hamba-hamba Allah yang tak pernah bosan dan letih memanjatkan do’a kepada-Nya. Mari kita sama-sama merenungkan satu ayat mulia berikut ini, yang urutannya dalam mushaf al-Qur-aan berada di antara ayat-ayat yang berbicara tentang Ramadhan (ayat 183 s.d. ayat 187, QS. al-Baqarah):
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْ
مِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka (katakanlah bahwa) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan hamba yang berdo’a jika ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala) perintah-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” [QS. Al-Baqarah: 186]
Keberadaan ayat ini di tengah-tengah ayat tentang Ramadhan, mengandung hikmah yang begitu mendalam. Al-Hafizh Ibnu Katsir mengupas hikmah tersebut dalam kitab tafsirnya yang terkenal, beliau mengatakan, yang artinya :
“Firman Allah ta’ala pada ayat ini perihal motivasi berdo’a yang disebutkan di sela-sela ayat tentang hukum-hukum seputar puasa (Ramadhan), menyiratkan petunjuk untuk bersungguh-sungguh dalam berdo’a saat menyempurnakan puasa, bahkan saat berbuka...” [Tafsir Ibnu Katsir: I/hal. 471, cet. Daar Ibnu Hazm 1419-H]
Sejarah emas Islam mencatat bahwasanya kemenangan terbesar umat ini pada Perang Badr terjadi di bulan Ramadhan, tepatnya 2 tahun setelah hijrah. Dan itu tentu saja tidak lepas dari sebab munajat dan do’a kepada Rabbul ‘Aalamiin. Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu mengisahkan:
“Sungguh aku melihat kami pada malam (perang) Badr, di mana tidak ada satu pun di antara kami melainkan ia tertidur, kecuali Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau sholat menghadap pohon dan berdo’a (kepada Allah) sampai subuh...” [Hadist Shahih, riwayat Ahmad no. 1161]
Dan kita tahu bahwa keeseokan harinya, Allah menjawab do’a tersebut dengan menurunkan ribuan bala tentara Malaikat untuk menolong kaum muslimin yang berjumlah sedikit dan lemah waktu itu. Ini adalah salah satu bukti, betapa dahsyatnya do’a di bulan yang suci ini. Mereka yang dekat dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, sangat memahami betapa Ramadhan adalah waktu yang istimewa untuk memanjatkan do’a tanpa rasa takut akan ditolak. Lihatlah bagaimana ‘Aisyah radhiallahu’anha meminta do’a khusus dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam untuk dibaca saat Lailatul Qadr, beliau radhiallahu’anha berkata:
Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, jikalau aku mendapati satu malam (Ramadhan) ternyata adalah Lailatul Qadr, maka do’a apa yang aku ucapkan? Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab; ucapkanlah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah. Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” [Sunan Ibnu Majah no. 3850, dishahihkan al-Albani]
Itulah kedahsyatan Bulan ramadhan, maka marilah kita khusyukan puasa kita dan senantiasa memanjatkan doa memohon ampunan atas segala kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat selama ini di bulan yang penuh dengan ampunan ini. Ini adalah kesempatan kita yang kesekian kalinya yang diberikan Allah kepada kita untuk bermunajat di hadapan Allah sehingga puasa kita bisa menjadi Mabrurr. Amin.
Rabu, 08 Mei 2013
Rabu, 01 Mei 2013
Hari yang Lamanya Lima Puluh Ribu Tahun
wirawan
17 Apr
ke I-Siyasah, bcc: myquran
Oleh Ihsan Tandjung
Tokoh penuh hikmah Luqmanul Hakim pernah menasihati anaknya. ”Anakku, hiduplah untuk duniamu sesuai porsi yang Allah berikan. Dan hiduplah untuk akhiratmu sesuai porsi yang Allah berikan.” Tak seorangpun tahu berapa lama jatah hidupnya di dunia fana ini. Ada yang mencapai 60, 70 atau 80-an tahun. Ada yang bahkan berumur pendek. Wafat saat masih muda beliau. Yang pasti tak seorangpun bisa memastikan porsi umurnya di dunia. Pendek kata Wallahu a’lam, Allah saja yang Maha Tahu.
Adapun jatah hidup kita kelak di akhirat adalah tidak terhingga. Kita insyaAllah bakal hidup kekal selamanya di sana.
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
Alangkah senangnya bila hidup kekal tersebut dipenuhi dengan kenikmatan surga. Namun, sebaliknya, alangkah celakanya bila kehidupan abadi tersebut diisi dengan siksa neraka yang menyala-nyala. ”Ya Allah, kami mohon kepadaMu surgaMu dan apa-apa yang mendekatkan kami kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan. Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari siksa nerakaMu dan apa-apa yang mendekatkan kami kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan.”
Artinya, jika kita bandingkan lama hidup di dunia dengan di akhirat, maka jatah hidup di dunia sangatlah sedikit. Sedangkan hidup manusia di akhirat sangat luar biasa lamanya. Praktis, hidup manusia di dunia seolah zero time (nol masa waktu) dibandingkan hidup di akhirat kelak. Wajar bila Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sampai mengibaratkan dunia bagai sebelah sayap seekor nyamuk. Artinya sangat tidak signifikan. Dunia sangat tidak signifikan untuk dijadikan barang rebutan.
Orang beriman kalaupun turut berkompetisi atau berjuang di dunia hanyalah sebatas mengikuti secara disiplin aturan main yang telah Allah subhaanahu wa ta’aala gariskan. Mereka tidak mengharuskan apalagi memaksakan hasil. Sehingga bukanlah menang atau kalah yang menjadi isyu sentral, melainkan konsistensi (baca: istiqomah) di atas jalan Allah. Berbeda dengan orang-orang kafir dan para hamba dunia lainnya. Mereka tidak pernah peduli dengan aturan main Allah subhaanahu wa ta’aala. Yang penting harus menang. Prinsip hidup mereka adalah It’s now or never (Kalau tidak sekarang, kapan lagi…?!). Sedangkan prinsip hidup orang beriman adalah If it’s not now then it will be in the Hereafter (Kalaupun tidak sekarang, maka masih ada nanti di akhirat). Sehingga orang beriman akan selalu tampil elegan, tidak norak ketika terlibat dalam permainan kehidupan dunia. Sebab kalaupun ia kalah di dunia, ia sadar dan berharap segala usahanya yang bersih tersebut tidak menyebabkan kekalahan di akhirat. Sementara kalau ia menang di dunia ia sadar dan berharap segala amal ikhlasnya bakal menyebabkan kemenangan di akhirat yang jauh lebih menyenangkan.
Di antara perkara yang selalu membuat orang beriman berlaku wajar di dunia adalah ingatannya akan hari ketika manusia dibangkitkan. Saat mana setiap kita bakal dihidupkan kembali dari kubur masing-masing lalu dikumpulkan di Padang Mahsyar. Tanpa pakaian apapun di badan dengan matahari yang jaraknya sangat dekat dengan kepala manusia. Seluruh manusia bakal hadir semua sejak manusia pertama, Adam alaihis-salaam, hingga manusia terakhir. Semua menunggu giliran diperiksa dan diadili orang per orang. Sebuah proses panjang serta rangkaian episode harus dilalui sebelum akhirnya tahu apakah ia bakal senang selamanya di akhirat dalam surga Allah ataukah sengsara berkepanjangan di dalam api neraka. Proses panjang tersebut akan berlangsung lima puluh ribu tahun sebelum jelas bertempat tinggal abadi di surgakah atau neraka. Laa haula wa laa quwwata illa billah…! Begitulah gambaran yang diberikan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ صَاحِبِ كَنْزٍ لَا يُؤَدِّي حَقَّهُ إِلَّا جُعِلَ صَفَائِحَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جَبْهَتُهُ وَجَنْبُهُ وَظَهْرُهُ حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بَيْنَ عِبَادِهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ ثُمَّ يُرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ (أحمد)
Abu Hurairah r.a.berkata bahwa, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak seorang pun pemilik simpanan yang tidak menunaikan haknya (mengeluarkan hak harta tersebut untuk dizakatkan) kecuali Allah akan menjadikannya lempengan-lempengan timah yang dipanaskan di neraka jahanam, kemudian kening dan dahi serta punggungnya disetrika dengannya hingga Allah SWT berkenan menetapkan keputusan di antara hamba-hambaNya pada hari yang lamanya mencapai lima puluh ribu tahun yang kalian perhitungkan (berdasarkan tahun dunia). (Baru) setelah itu ia akan melihat jalannya, mungkin ke surga dan mungkin juga ke neraka.” (HR Ahmad 15/288)
Sungguh, suatu hari yang sulit dibayangkan! Apalagi -karena matahari begitu dekat dari kapala manusia- selama hari itu berlangsung manusia bakal basah dengan keringat masing-masing sebanding dosa yang telah dikerjakannya sewaktu di dunia. Ada yang keringatnya hanya sampai mata kakinya. Ada yang mencapai pinggangnya. Ada yang mencapai lehernya. Bahkan ada yang sampai tenggelam dalam keringatnya. Hari itu sedemikian menggoncangkan sehingga para sahabatpun sempat resah. Mereka meminta kejelasan kepada Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana akan sanggup melewati hari yang begitu lamanya, yakni hingga lima puluh ribu tahun. Maka Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menenteramkan hati mereka dengan menjanjikan adanya dispensasi khusus dari Allah subhaanahu wa ta’aala bagi orang beriman pada hari itu:
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ مَا أَطْوَلَ هَذَا الْيَوْمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهُ لَيُخَفَّفُ عَلَى الْمُؤْمِنِ حَتَّى يَكُونَ أَخَفَّ عَلَيْهِ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ يُصَلِّيهَا فِيَّ الدُّنْيَا(أحمد)
Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw:”Sehari seperti lima puluh ribu tahun… Betapa lamanya hari itu!” Maka Rasulullah saw bersabda:”Demi jiwaku yang berada di dalam genggaman-Nya, sesungguhnya hari itu dipendekkan bagi mu’min sehingga lebih pendek daripada sholat wajibnya sewaktu di dunia.” (HR Ahmad 23/337)
Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin. Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan orang beriman sejati sehingga kami sanggup menjalani hari yang tidak ada naungan selain naunganMu. Amin.-
Langganan:
Postingan (Atom)