.NUTRISI HATI to verify.bing.com. NUTRISI HATI

Laman

Lagu Islami

Senin, 27 Agustus 2012

Seandainya Dapat Kembali ke Dunia lagi

wirawan ✆ wirawan.smg@gmail.com 12:08 (19 jam yang lalu) ke myquran
 NB : Mohon maaf lahir dan batin ya.... :)
Oleh: Dhamdham
Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata:
“Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia)…”(QS. Al Mukminun: 71)
 Manusia yakin mati adalah keniscayaan-Nya, namun tidak sedikit yang ketika ajal menjemput, baru menyadari hakekat kehidupan dunia. Saat itulah dia menyesali perbuatan yang pernah dilakukan di dunia. Namun semua sia – sia, tidak ada lagi amal shalih baginya yang dapat dikerjakan, yang ada hanyalah perhitungan amal. Maka kabar gembira bagi orang – orang shalih,
“Dan itulah jannah yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal – amal dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az Zukhuf: 72)
Dan kabar buruk bagi si thalih (antonym shalih),
“Sesungguhnya orang – orang yang berdosa kekal di dalam azab Jahanam.” (QS. Az Zukhuf: 74) Angan – angan orang shalih Mereka adalah orang – orang yang selamat dari siksa neraka yang kekal. Dan mereka bertingkat – tingkat sesuai dengan derajat yang mereka peroleh. Orang – orang shalih memiliki harapan dan angan diantaranya:
1.Setelah meninggal dunia, ia ingin segera diantar ke kubur. Dari Abu Said al Khudri, Rasulullah saw bersabda, “Apabila jenazah telah siap, kemudian dipikul oleh kaum laki – laki di atas punggungnya, apabila dia jasad yang shalih, akan berkata, “Dahulukanlah aku, dahulukanlah aku”. Apabila tidak shalih, dia, “Celaka, ke mana mereka hendak pergi? Suara itu didengar oleh siapapun kecuali manusia, dan seandainya saja mereka dapat melihat, pasti akan goncang.” (HR. al Bukhari dan an Nasa’i)
 2. Dia berharap tidak kembali ke dunia dan berharap kiamat segera tiba, sebab mereka melihat derajatnya yang begitu mulia di jannah. Dia ingin segera masuk ke dalam kenikmatan yang kekal. Rasulullah saw telah menceritakan kepada kita saat seorang mukmin ditanya oleh dua malaikat di dalam kubur,”…Tiba – tiba terdengar suara yang memanggil dari langit, hamba-Ku benar, maka persilahkan dia menempati tempat tidurnya di Jannah, pakaikanlah pakaian Jannah, bukakanlah baginya pintu menuju Jannah. Kemudian arwahnya datang beserta bau harum, kuburnya diluaskan sejauh mata memandang, lalu datang seorang laki – laki berwajah tampan, berpakaian bagus dan harum, dia berkata: saya datang memberi kabar gembira untukmu, ini adalah harimu yang telah dijanjikan. Dia berkata: “Siapakah kamu?” Laki – laki itu berkata: “Saya adalah amal shalihmu.” Dia berkata: “Ya Rabbku bangkitkanlah hari Kiamat, ya Rabbku bangkitkanlah hari Kiamat, sehingga saya dapat kembali menemui keluarga dan hartaku…(HR. Abu Dawud, al Hakim, Ibnu Khuzaimah) Sedangkan orang kafir atau munafiq, akan berdoa: “Wahai Rabbku, janganlah Engkau bangkitkan hari Kiamat.” Sebab dia tahu apa yang akan terjadi setelah alam kubur itu lebih dahsyat dari apa yang tengah dialaminya.
3. Orang shalih punya keinginan untuk menemui keluarganya agar bisa memberi kabar gembia bahwa dia selamat dari neraka. Apabila seorang mukmin mati dan melihat apa yang dijanjikan kepadanya serta selamat dari api neraka, dia berkata “Biarkanlah aku (kembali), agar saya memberi kabar gembira kepada keluargaku.” Maka dikatakan kepadanya: “Tetaplah tinggal.” (HR. Ahmad dari Jabir bin Abdillah) Dan Allah berfirman, “Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke jannah”. Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabbku memberikan ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang – orang yang dimuliakan”. (QS. Yasin: 26-27)
4. Angan – angan orang mati syahid Meskipun kedudukan tinggi telah mereka capai. Namun masih ada keinginan, seandainya dapat kembali ke dunia untuk berjihad memerangi musuh – musuh Allah. Dia ingin berperang dan ingin terbunuh hingga sepuluh kali, sebab dia melihat karomah yang sangat besar. Dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda, “Tiada seorangpun yang masuk jannah kemudian ingin kembali lagi ke dunia , tidak ada satu permintaanpun di bumi kecuali mati syahid, dia ingin kembali ke dunia kemudian terbunuh hingga sepuluh kali Karena dia melihat banyak karomah.” (HR. Ahmad, al Bukhari, Muslim, at Tirmidzi, an Nasai dan Ibnu Hibban) Angan – Angan Orang Thalih (antonym shalih) Sesungguhnya orang – orang yang malas untuk memberikan hak – hak Allah adalah orang lalai. Dia selalu mengundur – undur taubat dan mengatakan, “Pasti nanti saya akan bertaubat.” Dia yakin umurnya masih panjang dan tidak sadar kematian bisa datang tiba – tiba. Saat itulah dia tidak dapat mengelak dan lari darinya. Selanjutnya tinggalah ia sendiri di dalam kubur yang gelap gulita. Saat itulah dia berangan – angan sesuatu yang tidak mungkin lagi dicapai. Diantara keinginan orang – orang thalih adalah:
1. Ingin diberi kesempatan shalat di dunia, meskipun hanya dua rakaat. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw melewati sebuah kuburan, beliau bertanya: “Milik siapakah kuburan ini?” Para sahabat menjawab: “Fulan” Beliau bersabda, “Dua rakaat lebih dicintai oleh pemilik kubur ini daripada sisa hidup kalian.” (HR. ath Thabrani) Keinginan yang besar mereka adalah diberi kesempatan untuk shalat dua rakaat agar dapat menambah kebaikannya. Sebab Rasulullah saw pernah bersabda, “Shalat adalah sebaik – baik materi, barang siapa yang mampu memperbanyak shalatnya, maka perbanyaklah.” (HR. ath Thabrani)
2. Ingin bersedekah Allah telah mengingatkan kepada hamba – Nya yang memiliki harta untuk menyisihkan sebagian dari rizki yang telah diberikan kepada kaum miskin, agar kelak ketika telah datang kematian dia tidak menyesal. “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang – orang yang shalih. “ (QS. Al Munafiqun: 10-11) Mengapa dia berkata demikian? Sebab dia baru sadar bahwa shadaqah akan memadamkan murka Allah. Umar bin Khathtab berkata: “Telah diceritakan kepadaku bahwa seluruh amal saling membanggakan dirinya, lalu shadaqah berkata: “Sayalah amal yang paling utama di antara kalian.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan al Hakim)
3. Ingin beramal shalih Ketiga, dia berharap kembali kedunia untuk menjadi orang shalih meskipun hanya sesaat. Dia ingin memperbaiki amalnya dan menjadi orang yang taat kepada Allah. Allah berfirman di dalam surat al Mukminun: 99 – 100. Mereka adalah orang – orang yang lalai dari mensyukuri nikmat Allah dan tertipu oleh nikmat yang dianugrahkan kepadanya. Oleh karena itu bagi kita yang masih diberi kesempatan, hendaklah mulai berfikir dan membayangkan bagaimana jika kita telah berada di kubur? Sudahkah kita yakin dengan bekal amal kita selama ini? Wallahulmusta’an.
Jombang, 3 Agustus 2007
Selengkapnya di: ar-risalah no 75

Rabu, 25 Juli 2012

Berperang melawan Hawa Nafsu


Membaca dan mendengar kata Berperang atau perang adalah sesuatu yang ganas dan mengerikan, karena kita berhadap-hadapan baik secara dekat maupun jauh dan kata perang identik dengan Senjata, maut dan tentunya hal-hal yang mengerikan, tetapi ada masa berhentinya bahkan berhenti sama sekali, karena adanya suatu perdamaian atau kompromi tertentu sehingga berakhirlah peperangan tersebut.
Berperang melawan hawa nafsu tidak pernah dan sama sekali tidak ada jedanya dan juga tiada akhirnya sampai manusia yang berperang melawan hawa nafsu tersebut MATI, artinya bahwa peperangan melawan hawa nafsu setiap saat muncul dan tidak tahu dari mana datangnya musuh, karena tidak berwujud dan tidak terlihat, sehingga amat berat dan lebih berat dibandingkan berperang secara fisik.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia Insklopedia bebas
Hawa nafsu adalah sebuah kekuatan emosional yang langsung berkaitan dengan pemikiran atau fantasi tentang hasrat seseorang, biasanya berkenaan dengan seks.

Dalam agama Islam

"Hawa nafsu" terdiri dari dua kata: hawa (الهوى) dan nafsu (النفس).

Dalam bahasa Melayu, 'nafsu' bermakna keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan kata hawa (=hawa nafsu), biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik. Adakalanya bermakna selera, jika dihubungkan dengan makanan. Nafsu syahwat pula berarti keberahian atau keinginan bersetubuh.[2]
Ketiga perkataan ini (hawa, nafsu dan syahwat) berasal dari bahasa Arab:
  • Hawa (الهوى): sangat cinta; kehendak
  • Nafsu (النفس): roh; nyawa; jiwa; tubuh; diri seseorang; kehendak; niat; selera; usaha
  • Syahwat (الشهوة): keinginan untuk mendapatkan yang lazat; berahi.[3]"
Ada sekolompok orang menganggap hawa nafsu sebagai "syaitan yang bersemayam di dalam diri manusia," yang bertugas untuk mengusung manusia kepada kefasikan atau pengingkaran. Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal ketimbang kenikmatan yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang.
Sebenarnya setiap orang diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul kepermukaan. Potensi yang dimaksud di sini adalah potensi untuk menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Namun karena hambatan nafsu yang ada pada diri seseorang potensi-potensi tadi tidak dapat muncul kepermukan (dalam realita kehidupan). Maka dari itu mensucikan diri atau mengendalikan hawa nafsu adalah keharusan bagi siapa saja yang menghendaki keseimbangan, kebahagian dalam hidupnya karena hanya dengan berjalan di jalur-jalur yang benar sajalah menusia dapat mencapai hal tersebut.
Jadi, berperang melawan hawa nafsu dapat dikatakan JIHAD dalam arti yang sesungguhnya, seperti dalam sebuah acara seorang penyanyi yang merangkap sebagi dai, sebelum menyanyi terlebih dahulu dia memberikan muqoddimah (pembukaan): "Saudara-saudara, melawan hawa nafsu adalah jihad yang utama. Suatu saat, ketika nabi pulang beserta para sahabatnya dari sebuah peperangan, beliau bersabda kepada para sahabat: ' Sesungguhnya kalian pulang dari jihad kecil menuju jihad besar. Para sahabat bertanya : Ya Rosulullah, apakah jihad yang besar itu?' Beliau menjawab : jihad nafs (jihad melawan hawa nafsu)" Setelah itu dia membawakan lagunya.
Ibnu Qayyim dalam soal keutamaan melawan hawa nafsu berkomentar: “Sesungguhnya melawan hawa nafsu bagi seorang hamba melahirkan suatu kekuatan di badan hati dan lisannya.” Sebagian salaf berkata “Orang yang bisa mengalahkan nafsunya lebih kuat daripada orang yang menaklukkan sebuah kota degan seorang diri.
” Dalam hadits shahih disebutkan “Tidaklah orang yang kuat itu yang menang dalam bergulat tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai hawa nafsunya ketika ia marah.”.

Dapat disimpulkan dari semua urain diatas bahwa berperang melawan hawa nafsu adalah peperangan yang  benar-benar Jihad fi sabilillah yang tiada akhirnya sampai akhir hayat sehingga berperang melawan hawa nafsu adalah Peperangan Akbar. Allahhuakbaar!


Senin, 25 Juni 2012

MENGISI WAKTU LIBURAN

Liburan sekolah telah tiba. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi liburan sekolah anak-anak kita yang umum dilakukan para orang tua seperti misalnya: Mengunjungi tempat Wisata, Ke rumah Kakek-Neneknya atau berkunjung ke sanak saudaranya yang berada di luar Kota.Tapi tidak sedikit juga orang tua yang mengisi liburan anak-anaknya dengan mengikutkan kegiatan Pesantren kilat  dan atau kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan Kreatifitas.
Ini semua bergantung pada alasan dan tujuan masing-masing, sehingga liburan sekolah yang panjang bisa terisi dengan hal-hal yang positip.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengisi liburan sekolah, antara lain dengan menyesuaikan masa liburan dengan rencana kegiatan yang akan diikuti oleh putra-putri kita agar terhindar dari rasa jenuh, kecapaian anak tersebut dan memberikan tenggang waktu  yang cukup untuk istirahat menjelang memasuki masa sekolah kembali, sehingga anak  kita benar-benar fress ketika kembali bersekolah dan memiliki kesan yang sangat mendalam(Positip) dengan liburannya.
Seyogyanya jangan membiarkan anak-anak kita mengisi masa liburannya dengan hanya
bermain yang tak menentu arah dan tujuannya, karena kalau hal ini kita lakukan maka bisa menimbulkan hal-hal yang negatif baik pada masa kini terlebih pada masa yang akan datang, karena dari efek phiskologi anak tersebut. Lebih parahnya lagi akal dan pikirannya selalu melayang-layang tak tahu arah, karena tidak adanya kegiatan yang positip.
Seperti disebutkan dalam QS.At-Taubah: 87:" MEREKA RELA BERADA BERSAMA ORANG-ORANG YANG TIDAK PERGI BERPERANG"

Selasa, 19 Juni 2012

Ikhlas

Ikhlas,sebuah kata yang mudah untuk diucapkan dan sering kita dengar bahkan juga sering kita ucapkan.
Pertanyaannya adalah: Apakah Ikhlas yang kita ucapkan benar-benar dari qolbu atau dari hati kita yang tulus?
Memaknai kata Ikhlas yang sering kita ucapkan adalah tanpa tendensi atau harapan apapun dari apa yang telah kita berikan, hanya benar-benar karena Tuhan yang Maha memiliki, bukan karena berharap pada suatu imbalan dari seseorang yang sudah kita berikan.
Ikhlas menerima Kondisi apapun yang ada pada diri kita, Ikhlas memberikan sesuatu kepada seseorang tanpa berharap sesuatu juga dan Ikhlas menerima Takdir dari Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta yang diberikan pada diri kita.
Memang terkadang dalam kehidupan yang kita jalani tidak sesuai dengan apa yang menjadi Keinginan atau Harapan kita, bahkan mungkin sangat buruk dan sering kita tidak bisa menerimanya.
Dalam kejadian diatas, maka keikhlasan kita dalam menerima kehidupan tersebut telah diuji Oleh Tuhan.
Kalau kita bisa menerimanya dengan penuh keikhlasan, maka KEBAHAGIAAN HAKIKI akan kita dapatkan. Apabila kita menginginkan kebahgiaan dalam hidup, maka terimalah apa yang sudah diberikan oleh Tuhan pada diri kita dengan penuh rasa Syukur, baik itu sedih, Bahagia dan apapun yang ada pada diri kita, keluarga kita, terimalah dengan Ikhlas dan penuh rasa Syukur, seperti yang tertuang dalam QS.Al-A'raf:144 yang artinya : "SEBAB ITU, BERPEGANG TEGUHLAH KEPADA APA YANG AKU BERIKAN KEPADAMU DAN HENDAKLAH KAMU TERMASUK ORANG-ORANG YANG BERSYUKUR"

Selasa, 12 Juni 2012

7 KALIMAT YANG MEMBUAT SESEOARANG MULIA DI SISI ALLAH

Sering kita mengucap kalimat- kalimat yang tak bermakna, bahkan tidak ada manfaatnya.Dan lebih parahnya lagi kalimat yang kita ucap justru mengandung fitnah,Naudzubillah. "Kata Abdul Laitsy(ahli fikih):BARANG SIAPA MENJAGA TUJUH KALIMAT,MAKA DIA ADALAH ORANG YANG MULIA DI SISI ALLAH DAN DI KALANGAN MALAIKAT, BAHKAN ALLAH TA'AALAA MENGAMPUNI SEMUA DOSANYA MESKIPUN DOSA ITU SEBANYAK BUIH DI LAUT,DAN DIA AKAN MENDAPATKAN KEHARUMAN TAATNYA DAN ADALAH HIDUP DAN MATINYA MENJADI BAIK. KE 7 KALIMAT ITU ADALAH:
 1.HENDAKLAH DALAM MEMULAI SETIAP AKTIFITAS/PEKERJAANNYA, MEMULAI DENGAN: BISMILLAH="DENGAN MENYEBUT ASMA ALLAH"
2.HENDAKLAH SETIAP SELESAI DARI SUATU PEKERJAN/AKTIFITASNYA, MENGUCAP: ALHAMDULILLAH="SEGALA PUJI BAGI ALLAH"
3.APABILA ADA KATA-KATA DARI LISANNYA YANG TIDAK BERARTI, SEGERALAH MENGUCAP:   ASTAGHFIRULLAAH="SAYA MOHON AMPUN KEPADA ALLAH"
 4.APABILA HENDAK MELAKUKAN/MENGERJAKAN SESUATU TAPI YANG AKAN DATANG,HENDAKLAH MENGUCAP: ISYAA-ALLAAH="APABILA ALLAH MENGHENDAKI" 5.APABILA DATANG KEPADANYA SUATU PERBUATAN YANG DIA BENCI(YANG TIDAK DISUKAI), BERUCAPLAH: LAAHAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAHIL 'ALIYYIL ADZIIM="TIDAK ADA DAYA DAN KEKUATAN KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH YANG MAHA TINGGI LAGI MAHA AGUNG"
6.APABILA DITIMPA OLEH SUATU BENCANA, HENDAKLAH MENGUCAP: INNAA LILLAAHI WA INNAA ILLAIHI RAAJI'UN="SUNGGUH KAMI SEKALIAN INI MILIK ALLAH DAN KEPADANYA KAMI SEKALIAN AKAN KEMBALI"
7.PADA SIANG HARI DAN MALAM HARI LISANNYA SELALU MENGUCAP: LAA ILAAHA ILLALLAHU MUHAMMADUR RASUULULLAH="TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH"